Showing posts with label tradisi. Show all posts
Showing posts with label tradisi. Show all posts

Tuesday, 21 April 2015

Orang Inggris Minum 876 Cangkir Teh Dalam Setahun

Channel Teh - Selain populer dengan royal baby yang akan lahir sebentar lagi, Inggris juga populer dengan kebiasaan minum tehnya. Setiap tahunnya, masyarakat Inggris biasa menikmati sekitar 876 cangkir teh. Kebiasaan ini didominasi oleh orang yang berusia di atas 55 tahun. Survei membuktikan bahwa mereka menikmati rata-rata 21 cangkir teh setiap minggunya. 

Survei dari YouGov yang ditugaskan oleh lembaga amal Contact the Elderly mengungkapkan bahwa kebiasaan minum teh meningkat seiring usia. Survei ini dilakukan terhadap lebih dari 2000 masyarakat Inggris. Orang berusia 18-24 tahun menikmati sekitar delapan gelas seminggu, sedangkan orang-orang di atas 55 tahun akan menikmati 21 cangkir per minggu. 

Dilansir dari Telegraph, temuan ini menunjukkan bahwa hampir dari seperempat anak-anak muda memiliki kecenderungan untuk menikmati teh lebih banyak saat mereka sedang sedih. Bahkan jumlah teh yang dinikmatinya dua kali lipat lebih banyak daripada yang berusia di atas 55 tahun. 

Survei ini juga mengungkapkan bahwa sepertiga perempuan akan meletakkan ketel di atas kompor untuk menyeduh teh saat mereka merasa tak enak badan. Jumlah ini jauh lebih banyak dibandingkan dengan 16 persen kaum pria. 

Terpisah dari hal itu, dari semua generasi dan jenis kelamin, teh secara luas dianggap mampu memerangi kesedihan dan kesepian. Lebih dari setengah orang dewasa yang disurvei setuju bahwa secangkir teh akan membuat mereka nyaman. Mayoritas responden juga setuju bahwa alasan utama untuk menikmati teh adalah untuk menciptakan rasa santai.

Sumber CNN Indonesia

Sunday, 12 April 2015

Minum Teh, Menghidupkan

Channel Teh - Kembali Tradisi yang Memudar Tradisi minum teh di sejumlah negara menjadi bagian kebudayaan bahkan status sosial. Setiap negara juga memiliki kekhasan minum teh yang unik. Keterampilan menyajikan teh hingga cara meminumnya lestari hingga turun-temurun. 

Meski berbeda-beda tradisinya, ritual minum teh di berbagai negara ampuh sebagai alternatif membangun kehangatan keluarga. Namun, saat ini banyak masyarakat yang sudah mulai melupakan tradisi ini. Bahkan, teh juga telah terimbas dengan munculnya beragam jenis minuman lain. Di Indonesia, teh pertama kali dikenal pada 1686 ketika Dr Andreas Cleyer yang berkebangsaan Belanda membawa tanaman ini ke Tanah Air. Uniknya, tanaman teh di Indonesia dikenal sebagai tanaman hias. 

Lalu di abad ke-17 pemerintah Belanda mendatangkan teh dari China untuk ditanam di Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Sejak itu masyarakat Indonesia mulai terbiasa minum teh untuk perjamuan resmi hingga penghangat di tengah keluarga sehari- hari. Sambil minum teh ditemani camilan khas Indonesia, keluarga bisa saling berkomunikasi dengan lebih akrab. 

Beberapa daerah di Indonesia mempunyai tradisi minum teh yang khas, seperti teh poci di Tegal, teh nasgitel di Solo, teh telur di Padang, dan sebagainya. Bahkan di Solo dikenal profesi khusus penyeduh teh yang disebut Jayeng . Masyarakat Eropa menyebut teh sebagai tay atau yang berasal dari bahasa Canton. Lalu orang Inggris melafalkannya sebagai tea. Sementara bangsa Belanda menyebutnya tee. 

Nah, konon dari situlah awal mula masyarakat Indonesia menyebut teh. Seiring berjalannya waktu dan zaman, pertumbuhan gerai- gerai teh pun sangat pesat di setiap daerah di Indonesia. Begitu juga di Sumatera Utara, sebagai salah satu daerah terbesar di Indonesia. Penikmat teh tak kalah banyaknya dengan penikmat kopi saat ini. Gerai dan rumah teh semakin berkembang pesat di Kota Medan. Sebut saja seperti Rumah Teh Ho Teh Tiam (HTT) di Jalan Mongonsidi, Medan. 

Rumah teh yang khusus menyediakan teh murni baik dari China maupun lokal ini sudah ada di Medan sejak 2008. Awalnya gerai ini dibuka karena pemiliknya, Endar Hadi Purwanto adalah penikmat teh dan sering ngumpul dengan kawan-kawannya sambil minum teh sejak 1995 di Medan. Bahkan karena kegemarannya untuk minum teh, mereka juga membuat komunitas Medan Tea Club yang dicetuskan 12 Juni 1999. 

“Awalnya kami sering ngumpul sambil minum teh. Minum teh ini dapat menimbulkan kehangatan di antara kita, bisa berbincang sambil membicarakan berbagai hal. Oleh karena itulah, lalu kami membuat komunitas dan akhirnya saya mendirikan HTT yang terbuka untuk umum. Kami ingin lebih menyosialisasikan kepada masyarakat luas tentang manfaat minum teh yang sehat bagi kesehatan,” papar Endar, yang juga Sekretaris Medan Tea Club ini. 

Menurut Endar, teh ini merupakan budaya timur yang harus tetap dilestarikan. Selain teh yang dikonsumsi dengan cara penyeduhan yang baik dapat menjaga stabilitas metabolisme tubuh sehingga tubuh bisa stabil dan sehat. Meminum teh juga seni, karena saat menyeduh teh ada rasa dan mood yang muncul di situ. “Teh ini bisa menjadi antioksidan bagi tubuh. Ibarat stabilizer untuk menstabilkan voltase listrik, maka teh ini adalah stabilisasi bagi tubuh kita. 

Saat kita menyeduh teh, kita menggunakan dua tangan, maka otak kiri dan otak kanan kita bekerja. Sehingga membuat kita benar-benar enjoy , kalau percaya hal itu bisa membuat kita terhindar dari pikun,” kata Endar. Namun, Endar mengakui kalau tradisi teh ini sempat memudar di tengah masyarakat. Padahal, bagi tradisi masyarakat Tionghoa, minum teh ini adalah kehormatan karena biasanya ada tradisi yang memberikan teh dari yang muda ke yang tua sebagai rasa hormat. 

Begitu pun, belakangan ini generasi muda termasuk di Medan menurut Endar sudah mulai kembali back to nature. “Kalau kita lihat belakangan ini banyak anak muda yang sudah peduli dengan kesehatan, mulai menghindari minuman bersoda dan lainnya. Mereka lebih memilih teh karena sudah mulai sadar untuk kesehatan. Di China dan Jepang kalau kita singgah ke kafe atau kedai minuman yang ada cuma dua pilihan, minum, yakni teh dan arak.

Teh yang disajikan juga tidak menggunakan gula, melainkan adalah teh murni,” papar Endar. Di rumah teh HTT lanjut Endar, pihaknya menyediakan teh yang didatangkan dari Tiongkok, Bogor juga Sidikalang. Tiga jenis teh yang disajikan yakni teh tanpa fermentasi, yaitu teh hijau, teh dengan full fermentasi atau hitam, dan teh yang semifermentasi yakni teh merah. “Semua teh ini berasal dari satu jenis daun yakni camelia sinensis. 

Untuk masyarakat Sumut sangat baik mengonsumsi black tea karena rata-rata masyarakat Sumut bermasalah dengan lambung. Hal itu disebabkan seringnya memakan gorengan juga mi dan makanan yang mengandung penyedap,” kata Endar. Anggota DPRD Sumut Brillian Moktar menuturkan, dia merupakan pencinta teh pu erh. Teh yang difermentasi dan disimpan dalam waktu yang lama. 

Sebagai sosok vegetarian dan perokok, dia merasakan manfaat dari mengonsumsi teh tersebut. “Dalam lima tahun terakhir rutin mengonsumsi teh pu erh, saya cek secara medis, kondisi paru-paru saya semakin baik. Jadi, teh ini mendetok paru-paru saya,” ucapnya. Karenanya, Brillian menyarankan agar masyarakat meminum teh. Teh yang dikonsumsi benar-benar teh orisinal. Jangan dicampur-campur. 

Lantaran menurutnya, jika minum teh yang dicampur-campur maka khasiat dan manfaat teh akan berkurang. Pemilik Rumah Teh Shangri La di Kompleks MMTC Medan ini menuturkan, di rumah tehnya, kini sudah mulai banyak pencinta teh yang datang. Berbagai jenis teh dan alat minum ditawarkan di sini. Mulai dari nampan, set cangkir, dan penyeduhnya. Serta teh yang didatangkan dari Cina. 

Di antaranya teh hijau, teh bunga, teh padat, teh titam, dan teh oolong. Senada, pemilik Raja Foto Studio, Janice, juga mengaku sebagai pencinta teh. Dia lebih menyukai teh pu erh. Menurutnya, teh pu erh tidak memiliki efek samping, terutama ke lambung. “Saya tidak bisa minum teh hijau karena sangat berpengaruh ke lambung, terutama kalau ada sakit maag,” ujarnya. 

Janice suka menyajikan teh untuk acara kumpul-kumpul bersama kerabat dan sahabat. Melalui minum teh bersama, Janice ingin menciptakan suasana minum teh yang lebih akrab. Menurutnya, ngeteh bisa menghilangkan kekakuan suasana. Di sisi lain, tidak hanya rumah teh yang khusus menyajikan teh murni untuk kesehatan. Rumah teh yang baru muncul, hadir dengan memberikan warna baru bagi pencinta teh di Medan. 

Misalnya, Rumah Teh Tong Tji. Baru hadir sejak awal 2015 di Plaza Medan Fair. Di sana penikmat teh bisa menikmati sensasi teh melati asal Tegal. Berbagai rasa teh melati yang dicampur dengan rempah- rempah dan berkhasiat untuk kesehatan disajikan. Apalagi ditambah dengan suasana rumah teh berwarna hijau. 

Tentu akan menambah kenyamanan bagi pengunjungnya. Agus Sulistijo, penanggung jawab Tea House Tong Tji di luar daerah Jawa, mengatakan teh Tong Tji ini sudah ada sejak 1938 silam didirikan pengusaha bernama Tan See Giam. Saat ini sudah ada menyebar di sejumlah kota besar seperti, Semarang, Surabaya, Bandung, Jakarta, Makasar, Medan, Manado, Lampung, Kediri, Tegal, dan lainnya. 

Berbeda dengan teh lainnya, karena teh melatih diolah dengan cara tradisional, lalu mencampurkan teh dengan aroma kuncup melati. Berbagai rasa teh dengan sensasi teh melati yang juga berkhasiat untuk kesehatan ada di Rumah Teh Tong Tji. Di antaranya teh uwuh yang rasanya terdiri dari campuran rempahrempah, seperti jahe dikepruk, daun salam, batang serai, lengkuas, dan cengkeh. Tidak hanya itu, tradisional javanese tea juga merupakan teh jasmine menjadi menu unggulan. 

Psikolog Irna Minauli menilai tradisi teh ini memang tidak bisa dihilangkan. Saat ini budaya teh harus terus digalakkan di kalangan orang Indonesia, khususnya ketika mereka berkumpul bersama keluarga. Selain dapat mempengaruhi peningkatan komunikasi kepada anggota keluarga, teh juga dapat memberikan dampak positif terhadap kesehatan dan psikologis seseorang.

“Dengan minum the bersama akan menimbulkan rasa tenang. Tentu selama ngeteh, semuanya harus meninggalkan gadget -nya masing-masing sehingga lebih fokus menikmati rasa tehnya dan keakraban yang ditimbulkan di suasana minum teh,” kata Irna Minauli kepada. Saat ini waktu berkualitas di antara anggota keluarga sudah semakin sedikit. 

Masing-masing sibuk dengan urusannya masing-masing. Bahkan ketika berkumpul dengan keluarga pun, mereka masih sibuk dengan ponsel atau gadget -nya masing-masing. Namun, saat ngeteh bareng itu tentunya kontak mata akan lebih banyak dibandingkan dengan komunikasi biasa yang sering tanpa berpandangan mata sama sekali. Padahal dengan kontak mata dapat meningkatkan kedekatan di antara mereka yang melakukannya. 

Hal ini dapat menciptakan ikatan yang kuat di antara mereka. Pengamat sosial Agus Suryadi menuturkan kultur sejarah budaya minum teh yang masuk ke Indonesia terbagi dua, yakni budaya Tiongkok dan Jepang. Bagi dua budaya ini, minum teh dilakukan untuk mempererat tali silaturahmi dan untuk menjaga kesehatan. 

Namun, seiring perkembangan globalisasi, hanya minum teh untuk mempererat tali silaturahmi saja yang tetap sama, sedangkan untuk menjaga kesehatan sudah mulai memudar. “Sekarang wujudnya berubah lantaran dipadankan dengan budaya barat. Jenis minuman yang digunakan sudah variatif dan dicampur. 

Minum teh yang dicampur ini, seperti menjadi presitis bagi kalangan masyarakat kota,” ungkapnya. Karenanya, Agus berharap agar variasi minuman ini harus diperhatikan. Dengan tidak menghilangkan silaturahmi, minuman sehat juga terjaga. Dengan begitu, budaya ngeteh bisa bertahan di masyarakat.

Friday, 31 October 2014

Lebih Baik Konsumsi Teh Panas atau Dingin?

Lazimnya teh memang disajikan dalam suhu hangat. Tapi jangan salah, mengonsumsi es teh juga tidak ada salahnya. Tenang, manfaat teh tidak akan hilang selama cara membuat dan mengonsumsinya benar.

Seperti disampaikan Ketua Komunitas Pecinta teh sekaligus Ketua Bidang Promosi Dewan Teh Indonesia, Ratna Somantri bahwa menikmati teh juga bisa disajikan dingin.

"Teh itu bisanya disajikan panas. Tapi mungkin karena kita tinggal di negara tropis, di Jakarta, siang itu panas. Jadi bisa minum dingin pakai es," katanya, Rabu (29/10/2014).

Tapi ingat, kata Ratna, agar khasiat teh tidak hilang maka Anda harus rela menunggu untuk menikmatinya. Ratna menerangkan, pertama-tama Anda bisa memasukkan teh oolong ke dalam wadah dan tambahkan air dingin. Biarkan teh selama 4 jam hingga siap disajikan.

"Tunggu sampai teh oolong berwarna kemerahan seperti champagne. Tanpa gula, asalkan langsung diminum, khasiat atau manfaat teh tidak akan hilang," jelasnya.

Ratna menambahkan, jika ingin menikmati teh dingin, ia memberikan tips untuk menambahkan es batu yang terbuat dari air teh sehingga tidak mengencerkan teh yang telah dibuat.

Simak Cara Menikmati Teh yang Benar dari Ahlinya

Menikmati tidak bisa sembarangan. Selain harus dicampur dengan suhu air yang pas, minum teh juga harus disegerakan agar kita dapat menfaat kesehatan dari antioksidan yang tinggi.

Begitu disampaikan Ketua Komunitas Pecinta teh sekaligus Ketua Bidang Promosi Dewan Teh Indonesia, Ratna Somantri, Kamis (30/10/2014).

Lebih jelasnya, berikut langkah-langkah menyajikan dan minum teh benar menurut Ratna:

1. Suhu air harus pas

Teh hitam bisa disiram air yang hampir mendidih. Teh hijau, teh oolong, teh putih dicampur air dengan suhu 70-80 derajat celsius (jangan dimasak di air mendidih). Tapi beberapa jenis teh hijau dari Jepang biasanya disajikan dengan air dengan suhu 50 derajat celsius," kata Ratna. 

Dalam suhu tersebut, kata Ratna, seseorang dapat merasakan rasa dan manfaat kesehatan dari teh. Bila Anda tidak percaya, coba saja bandingkan. Teh yang menggunakan air panas 100 derajat Celsius itu rasanya pasti pahit. Tapi kalau 70 derajat Celsius tidak akan.

2. Peralatan teh baiknya dari keramik

Menikmati teh ada baiknya di cangkir berbahan keramik. Selain bisa mengetahui suhu air yang pas, bahan ini juga bisa membuat aroma dan sajian teh menjadi kuat.

"Besi, logam akan memengaruhi rasa. Untuk menyeduh baiknya menggunakan peralatan keramik. Tapi yang penting, pastikan sebelum digunakan cangkir dan epralatan lainnya bersih. Kalau teko dari tanah liat, jangan sekali-kali dicuci pakai sabun. Gunakan saja teko tanah liat sesering mungkin agar aroma tehnya semakin berasa," katanya.

3. Perhatikan cara menuang air ke dalam teh

Ratna mengatakan, air yang akan digunakan untuk membuat teh, harus dituang dengan cara memutar. "Ini karena air memberi tekanan, kalau ditaruh di satu titik, nanti daun teh pecah. Kalau daun teh patah, rasanya bisa pahit. Inilah sebenarnya teh itu nggak ada yang pahit, kecuali salah cara buatnya."

4. Perhatikan cara minum teh

Mungkin di Indonesia, minum teh tidak dibarengi dengan upacara khusus seperti di Jepang. Karena disini, keutamaan teh sering diabaikan dan menganggap teh hanya sebagian kecil dari suatu obrolan.

Tapi bila Anda ke Jepang atau Cina, ada tata cara khusus untuk menikmati teh. Caranya, setelah teh jadi, sebelum diminum, teh harus dihirup dulu aromanya. Menikmati aroma teh ini juga ada filosofinya, salah satunya menghargai si pembuat atau pemetik daun teh. Setelah itu, teguk teh sebanyak 3 kali.

Dengan begitu, Ratna melanjutkan, semua orang bisa merasakan manfaat relaksasi dari minum teh tanpa harus pergi ke Jepang atau Cina.

"Teh itu tujuannya relaksasi. Tapi kalau di Jakarta, mungkin terburu-buru waktu jadi kita sering memaksa suhu dan buru-buru meminumnya. Padahal teh memiliki khasiat yang membuat kita menjadi lebih kalem, rileks," ungkapnya

Friday, 24 October 2014

Cuaca Ekstrim di Tiongkok Pengaruhi Rasa dan Khasiat Teh

Kondisi cuaca berpengaruh besar pada kualitas daun teh. Karenanya rasa teh yang diseduh berubah dipengaruhi cuaca. Demikian juga khasiatnya bagi kesehatan.

Perubahan rasa teh dirasakan oleh penggemar the di Tiongkok. Para peneliti baru-baru ini mengungkapkan karena peralihan musim hujan yang bisa menimbulkan reaksi kimia dalam the. Hal ini mengubah rasa tehh bahkan manfaatnya bagi kesehatan pun berubah.

Penelitian yang dipublikasikan di journal PLOS One mengungkap seberapa besar senyawa antioksidan ditemukan dalam daun yang sudah dipetik setelah tumbuh di daerah yang mengalami musim hujan yang ekstrim. Senyawa lainnya ditemukan untuk meningkatkan pasokan teh. 

Hal ini berakibat pada angka penjualan teh yang mengalami penurunan hampir setengahnya. Keadaan ini mengindikasikan jika konsumen tidak puas dengan rasa teh. 

Data dan sampel diolah dari berbagai jenis tumbuhan teh yang berasal dari bagian baratdaya Tiongkok. Kemudian diteliti oleh mahasiswa dari Montana State University, yang dipelopori Selena Ahmed dan rekan-rekannya.

Sample dikumpulkan dari daun yang tumbuh selama dua kali cuaca ekstrim yang terjadi. Musim kemarau dan musim hujan lalu dijadikan subjek analisis kimia.

Ahmed memperkirakan jika petani teh akan menghadapi kenaikan pendapatan yang berubah-ubah sesuai dengan perubahan intensitas musim kemarau dan musim hujan yang bergantung pada perubahan iklim.

‘Penelitian ini tidak hanya berlaku untuk teh, tapi juga untuk pangan dan tumbuhan obat lainnya yang mengalami perubahan baik dalam segi rasa, nutrisi. Bahkan khasiatnya juga berubah karena perubahan cuaca,” ungkap Ahmed. 

Nature World News melansir perubahan arah angin dan pergerakan atmosfer mempengaruhi munculnya hujan secara tiba-tiba. Baru-baru ini Tiongkok mengalami beberapa kali cuaca kering dan lembab. Hal ini memperburuk distribusi cadangan air yang menjadi tidak sama rata. Rupanya hal ini turut mengubah rasa teh yang dihasilkan.

Monday, 13 October 2014

Uniknya Tradisi Minum Teh di Berbagai Negara


SEBAGAI bagian dari kebudayaan dan status sosial, setiap negara memiliki tradisi minum teh  yang unik. Keterampilan menyajikan teh hingga cara meminumnya ini lestari hingga turun-temurun. Meski berbeda-beda tradisinya, ritual minum teh di berbagai negara ampuh sebagai alternatif membangun kehangatan keluarga. Seperti apa, ya?

Rusia: Teh untuk Musim Panas dan Musim Dingin
Ritual minum teh di Rusia ada sejak abad 17. Masyarakat biasanya menggunakan ketel samovar untuk mendidihkan air di atas tungku dan arang. Di musim panas,samovar diletakkan pada meja di sebuah taman. Sedangkan di musim dingin,samovar diletakkan di dalam ruangan rumah.

Menunggu air dalam samovar mendidih, zavarka (poci teh khas Rusia) pun dipanaskan hingga beruap. Sambil mengelap uap yang menempel dizavarka, daun teh dimasukkan hingga hangat dan layu. Tak lupa zavarka ditutup rapat hingga aroma teh menguar harum. Setelah mendidih, air dituang perlahan ke dalam zavarka hingga daun teh tenggelam.

Kemudian air teh dituang ke dalam gelas-gelas perak dan ditetesi air lemon. Tak lupa satu sendok selai atau gula putih dimasukkan ke dalam mulut sebelum menyesap teh. Sajian kue-kue manis melengkapi ritual minum teh yang dinikmati bersama keluarga.

Belanda: Disajikan bersama Biskuit
Biasanya orang Belanda mimum teh sebelum makan siang antara pukul 10-11 dan setelah makan malam antara pukul 7-8. Bedanya, orang Belanda suka meminum teh dengan sajian sekeping biskuit yang diletakkan di pinggir alas cangkir. Teh yang disajikan biasanya tanpa campuran susu dan lebih encer dibandingkan teh khas Inggris.

Irak: Ajang Kumpul Keluarga
Ternyata setiap keluarga di Irak selalu menyempatkan diri berkumpul pada sore hari sambil menikmati teh. Mereka akan duduk melingkar dan mengobrol akrab di ruang tamu sambil menunggu teh disajikan.

Proses membuat tehnya diawali dengan daun teh yang dimasukkan ke dalam poci dan dituangi air mendidih hingga daun terlihat naik ke atas. Poci kemudian diletakkan di atas ketel agar tetap panas hingga daun teh tenggelam.

Indonesia: Ada Teh Disajikan dengan Telur
Di Indonesia teh pertama kali dikenal tahun 1686, ketika Dr. Andreas Cleyer yang berkebangsaan Belanda membawa tanaman ini ke Tanah Air. Uniknya, awalnya tanaman teh di Indonesia dikenal sebagai tanaman hias.

Lalu di abad 17 pemerintah Belanda mendatangkan teh dari Cina untuk ditanam di Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Sejak itu, masyarakat Indonesia mulai terbiasa minum teh untuk perjamuan resmi hingga penghangat di tengah keluarga sehari-hari. Sambil minum teh ditemani camilan khas Indonesia, keluarga bisa saling berkomunikasi dengan lebih akrab.

Beberapa daerah di Indonesia mempunyai tradisi minum teh yang khas, seperti teh poci di Tegal, teh nasgitel  di Solo, teh telur di Padang, dan sebagainya. Bahkan di Solo dikenal profesi khusus penyeduh teh yang disebut Jayeng.

Masyarakat Eropa menyebut teh sebagai “tay ” atau “ yang berasal dari bahasa Canton. Lalu orang Inggris melafalkannya sebagai “tea ”, sementara bangsa Belanda menyebutnya “tee ”. Nah, konon dari situlah awal mula masyarakat Indonesia menyebut “teh”.

Jepang: Upacara Minum Teh Berlangsung 4 Jam
Masyarakat Jepang mulai mengenal teh matchayang terbuat dari bubuk teh hijau pada abad 12. Namun, upacara minum teh dikenal sejak abad 16 dan dipelopori Sen No Rikyu. Biasanya tradisi upacara minum teh berlangsung empat jam dan masih dilakukan hingga kini oleh masyarakat Jepang.

Pertama, tamu datang dan diantar ke ruang tunggu. Lalu tuan rumah mengajak tamu berjalan ke taman. Setelah mencuci tangan di pancuran taman, tamu masuk ke ruang penyuguhan teh. Tuan rumah akan menyiapkan teh kental dan setelah selesai ia akan membunyikan gong yang menandakan tamu untuk memulai upacara minum teh di ruang penyuguhan teh.

Teh biasanya disiapkan khusus oleh orang yang mendalami seni upacara minum teh. Ruang untuk minum teh disebut chashitsu . Sebelum meminum teh, posisi motif cawan (mangkuk teh) tidak boleh berada di bawah mulut untuk menghormati karya lukis pada cawan. Biasanya teh disajikan dengan kue manis untuk menetralkan rasa pahit teh.

Upacara minum teh selain membangun keakraban keluarga juga mencerminkan kepribadian dan pengetahuan tuan rumah yang mencakup, tujuan hidup, cara berpikir, agama, apresiasi peralatan upacara minum teh dan cara meletakkan benda seni dalam ruangan upacara minum teh.

Tibet: Tiga Cangkir Harus Habis
Minuman khas Tibet yang terdiri dari butter  dan teh disebut Po Cha. Penyajiannya sangat unik. Daun teh dituang dalam wadah silinder, ditambahkan garam dan butter dari susu sapi khas Tibet. Campuran itu dimasak hingga berjam-jam dan mengental. Teh akan berwarna cokelat kemerahan dan di atasnya terdapat buih mentega tebal.

Saat bertamu, tuan rumah akan menghidangkan Po Cha. Dan tamu harus menghabiskan tiga cangkir Po Cha. Jika tidak, tuan rumah akan merasa terhina dan tamu dianggap sombong.

Tiongkok: Menghirup Aroma Teh
Di Tiongkok, penyajian minuman teh tidak disertai kue-kue. Masyarakat Tiongkok sangat mengutamakan rasa dan aroma teh. Prosesnya pun unik. Dua wadah digunakan dalam tradisi minum teh, yaitu gelas dan mangkuk. Gelas untuk menghirup aroma teh, mangkuk untuk meminum air teh.

Daun teh dimasukkan hingga menutupi lingkaran dasar poci yang terbuat dari tanah liat merah berpori rapat. Poci diletakkan di atas mangkuk besar, lalu dituangi air mendidih hingga luber dan tertampung ke mangkuk besar. Kemudian poci ditutup selama beberapa menit.

Setelah terendam sempurna dan aroma menguar, air teh dituang ke gelas lalu dipindahkan ke mangkuk. Seusai memindahkan air teh, tamu menghirup aroma teh dari gelas sebagai tanda penghormatan pada tuan rumah. Setelah itu tamu baru bisa meminum teh.

Ditulis oleh : Ratih Sukma Pertiwi

Friday, 12 September 2014

Tradisi Minum Teh Sejak Masa Kolonial

Masyarakat Indonesia sudah menjadikan minum teh sebagai sebuah tradisi turun menurun. Tradisi minum teh ini awalnya hanya dimiliki kalangan bangsawan, namun kemudian sudah menjadi kebiasaan masyarakat luas.

Pada pertunjukkan 'Tradisi Minum Teh Tempoe Doeloe' pada gelaran Festival Seni Budaya Nusantara (FSBN) di pelataran dalam Museum Sejarah Jakarta, Kawasan Kota Tua Jakarta, Sabtu (23/8) malam, tercermin bagaimana kaum bangsawan dalam hal ini mengambil contoh kebiasaan Gusti Adipati Paku Alam VII yang selalu melestarikan tradisi minum teh bersama keluarganya setiap sore hari.

Menurut KRAy. SM. Anglingkusumo selaku Kepala Harian Museum Puro Pakualaman, di Indonesia, teh pertama kali dikenal pada 1686, yakni ketika warga kebangsaan Belanda, Dr. Andreas Cleyer membawa tanaman tersebut ke Indonesia sebagai tanaman hias.

"Pada 1782 Pemerintah Belanda mulai membudidayakan tanaman the utamanya di Pulau Jawa dengan mendatangkan biji-biji teh dari China. Semenjak itu, dimulailah kebiasaan untuk minum teh," jelasnya.

Indonesia sendiri merupakan negara penghasil teh terbesar kelima setelah India, China, Srilanka dan Kenya.
Pada 1826, tanaman teh berhasil ditanam melengkapi Kebun Raya Bogor dan pada 1827 di Kebun Percobaan Cisurupan, Garut, Jawa Barat. Berhasilnya penanaman teh di Wanayasa (Purwakarta) dan di Raung (Banyuwangi) pada 1877membuka jalan bagi Jacobus Loedewijk Levian Jacobson, seorang ahli teh, menaruh landasan bagi perkebunan teh di Jawa.

Teh dari Jawa tercatat diterima pertama kali di Amsterdam pada 1835. Teh jenis Assam mulai masuk ke Jawa pada 1877 dan ditanam oleh RE Kerkhoven di Kebun Gambung, Jawa Barat.

"Sejak itulah perkebunan teh di Indonesia mulai berkembang luas," jelas KRAy. SM. Anglingkusumo.